Minggu, 19 Juni 2011

Jatim akan kembangkan moda KA

Panitia Khusus Rencana Tata Ruang dan Wilayah (Pansus RTRW) Jawa Timur tengah serius mengembangkan angkutan masal berbasis kereta api karena dinilai lebih ekonomis dan mampu menjangkau semua wilayah provinsi itu.

Wakil Ketua Pansus RTRW DPRD Jatim, Agus Maimun, mengatakan pihaknya memang tengah merumuskan perubahan paradigma angkutan masal di provinsi itu dari angkutan darat berbasis jalan menjadi berbasis kereta api.

"RTRW Jatim sebagai landasan pengembangan provinsi dengan durasi 20 tahun ke depan akan diupayakan menampung dan merealisasikan perubahan paradigma sistem transportasi masal.  Pembahasannya telah hampir final. Usulan itu mendapat dukungan penuh dari PT Kereta Api," kata Agus kepada Bisnis, hari ini.

Latar belakang perubahan paradigma transportasi itu, katanya, melihat kecenderungan yang menjadi ke arah negatif atas dominasi angkutan darat untuk menjadi fasilitas moda angkutan baik penumpang, barang, dan jasa di Jatim.

"Pansus melihat peningkatan beban angkutan darat berbasis jalan, telah memicu sejumlah dampak negatif seperti kemacetan, kecelakaan. Padahal biayai perbaikan jalan maupun pengembangan jalan dan pembangunan jalan baru tidak seimbang dengan peningkatan jumlah kendaraan," ujarnya.

Kondisi itu, kata dia, mesti diantisipasi dengan mendorong pengembangan dan memfasilitasi agar penggunaan angkutan masal berbasis kereta api bisa didorong lagi pada masa mendatang.

"Pola distribusi logistik dan angkutan penumpang serta jasa mulai perlahan mesti dipindahkan bebannya ke angkutan KA. Toh moda angkutan itu diketahui telah dikembangkan sejak era penjajahan Belanda. Bahkan, hampir semua daerah di Jatim dulunya memiliki jalur rel KA yang terhubung meski kini ada yang telah mati," tegasnya.

Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Mohammad Nafik HR, mengakui upaya pendistribusian sistem transportasi dan logistik di Jatim mesti segera dimulai sehingga arus barang dan jasa tidak lagi hanya bertumpu pada angkutan darat berbasis jalan.

"Contoh konkret, ketika semburan lumpur Sidoarjo telah mengganggu jalur transportasi darat ruas arteri maupun tol Porong-Gempol, angkutan KA menjadi alternatif yang baik untuk mengurai problem itu. Ke depan, jaringan KA yang lebih baik mesti dikembangkan di Jatim seperti kala penjajahan Belanda," kata Nafik kepada Bisnis hari ini.

Nafik menerangkan sebelum jaringan jalan terbangun di Jawa khususnya di Jatim, pemerintah penjajahan Belanda lebih dulu mengembangkan jaringan kereta api untuk menjadi alat transportasi menghubungkan sejumlah daerah. 

Kaltim akan ubah strategi ekonomi


altTENGGARONG: Kalimantan Timur berniat mengubah strategi dari ekonomi daerah yang berbasis migas dan pertambangan menjadi berbasis industri dan pertanian dalam arti luas. Ini karena sektor pertanian dinilai mampu menyerap tenaga kerja yang tinggi.

Dengan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) sebesar Rp320 triliun pada 2010, perekonomian Kaltim saat ini masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian (41,62%) dan industri pengolahan migas (34,8%).

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan walaupun kontribusi sektor pertanian dalam arti luas masih rendah terhadap PDRB, tetapi mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 35% dibandingkan dengan sektor migas dan pertambangan yang hanya menyerap 11,74% tenaga kerja.

"Sektor pertanian tidak diragukan lagi karena mampu mengurangi pengangguran dan menekan angka kemiskinan. Inilah yang menjadi alasan mengapa Kaltim menetapkan visi Kaltim Bangkit 2013," kata Awang dalam pembukaan Pekan Nasional (Penas) XIII Petani Nelayan 2011 kemarin.

Sebagai provinsi terluas kedua setelah Papua, Kaltim memiliki jumlah penduduk 3,5 juta jiwa dan laju pertumbuhan penduduk 3,9% per tahun.

Untuk mewujudkan pengembangan bidang pertanian dalam arti luas tersebut, Awang menegaskan pihaknya mengharapkan dukungan pemerintah pusat. Dukungan tersebut diantaranya rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) segera disahkan sehingga daerah memiliki kepastian hukum mendapatkan kawasan-kawasan budidaya non kehutanan dan hutan-hutan sekunder yang bisa dikonversi untuk lahan pertanian.

"Insya Allah lahan-lahan pertanian di Kaltim akan bertambah, bukan berkurang. Pengembangan pertanian di Kaltim ke depan tidak lagi dilakukan secara konvensional tetapi secara industrialisasi dengan menekankan pada peningkatan produktivitas yang bernilai tambah," papar Awang. (tw)

SUMBER : BISNIS.COM

Hutan Resapan Air Sungai Batanghari Rusak

Tinggi permukaan air Sungai Batanghari mulai surut di peralihan musim ini. Penyedia jasa atau sopir sampan ketek sepanjang sungai mengamati permukaan air telah turun sekitar satu meter lebih dari ketinggian biasanya. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Batanghari menyebutkan, penurunan ketinggian, selain peralihan musim, disebabkan juga karena cadangan resapan air telah berkurang. Daerah resapan tidak lagi menyediakan air cadangan.

"Sekarang belum disebut musim kemarau, tapi ketinggian permukaan air berkurang. Ini karena pengaruh air yang tersimpan dalam tanah berkurang," kata Grendel Siboro, Kepala BPDAS Batanghari. Fenomena turunnya tinggi permukaan air ketika belum masuk musim kemarau, seharusnya tidak terjadi atau tidak berkurang. Namun kerusakan daerah resapan sepanjang DAS, seperti penebangan pohon ternyata telah banyak terjadi. Dampaknya dikatakan Grendel dapat dilihat di air sungai Batanghari.

"Daerah resapan sepanjang DAS itu telah rusak oleh kerusakan hutan, juga konversi lahan ke perkebunan," jelasnya. Dalam undang-undang tata ruang, diatur minimal 30 persen dari DAS digunakan untuk resapan. Daerah tersebut seharusnya berbentuk kawasan hutan. Namun kondisi saat ini, diungkapkan Grendel angkanya jauh dari batas minimal. "Sekarang jauh di bawah 30 persen," katanya.

Luas kawasan hutan DAS Batanghari sendiri 4,5 juta hektare. Saat ini luas kawasan hutannya tak sampai 1,5 juta hektare. Dipaparkan kepala BPDAS, dampaknya daerah resapan air kemudian berkurang drastis, pengaruhnya linier ke cadangan air sungai.

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Duanto A Sudrajat
TRIBUNNEWS.COM, JAMBI -
Editor: Dewi Agustina   |  Sumber: Tribun Jambi
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Kantor-kantor


Lihat JAMBI PROVINCE GOVERMENT di peta yang lebih besar
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jaringan Jalan

Jaringan Jalan

TERAKHIR DI UPDATE GOOGLE

Kebun Mangrove

Kebun Mangrove

Struktur Sungai

Struktur Sungai

POLA RUANG SUMATERA

POLA RUANG SUMATERA