Rabu, 26 Desember 2012

Membuat Udara Bersih di Sekitar TN. Berbak – Jambi

Masalah dalam Pemahaman REDD+ di Masyarakat 
Gita Buana merupakan lembaga sosial kemasyarakatan yang berfokus pada kegiatan konservasi hutan dan lingkungan alam mencoba menggagas untuk meningkatkan pemahaman karbon dalam skema REDD+ dengan menggunakan kata udara bersih. Kurangnya pemahaman masayarakat desa untuk pengertian karbon dan REDD+ merupakan masalah penting dalam penerapan sistem REDD+ di sekitar TN. Berbak.

Masyarakat desa sangat sulit untuk memahami istilah karbon dalam skema REDD+. Kata karbon muncul pada tahun-tahun belakang ini dan merupakan kata baru sehingga pemahamannya pun perlu waktu. Namun, kata udara udara bersih telah mereka pahami sejak zaman dulu.

Di sisi lain, dunia menghadapi keracunan udara akibat negara industri yang terus berproduksi dan menghasilkan karbondioksida di udara. Untuk itu perlu suatu kesepakatan untuk menurunkan emisi tersebut. Hutan sebagai ruang tempat menyerap racun udara banyak terdapat pada negara berkembang namun masyarakat menggunakan hutan sebagai wahana untuk perekonomian sebagai keberlangsungan kehidupan maka dari ini dunia perlu membangun mekanisme penurunan emisi di udara

Ada korelasi kata karbon dengan kata udara bersih dalam meningkatkan pemahaman skema REDD+. Maksud dari kegiatan ini untuk membangun inisiataif kepedulian terhadap udara bersih kepada masayarakat desa di sekitar TN. Berbak – Jambi. Masyarakat desa dengan mudah memahami karbon dan skema REDD+ melalui pendekatan kata udara bersih.

Sistem REDD+ yang masih dalam penyempurnaan, pemahan karbon yang kurang dalam merupakan masalah penting dalam memahami hakikat karbon dan REDD+ itu sendiri. Perlu adanya pendekatan kata baru yang memiliki hakikat dan hirarki yang sama untuk tujuan REDD+, yaitu kata “udara bersih”. Rendahnya kemampuan intelektual dan kemampuan intelejensia masyarakat desa tentang pemaham karbon dan REDD+ merupakan dasar kegiatan ini untuk mensosialisasi pemahan tersebut.

Kenapa Udara Bersih ?

Udara bersih adalah model pendekatan untuk memahami penjelasan karbon dalam skema REDD+. Kenapa udara bersih ? Karbondioksida yang ada di udara adalah penghalang sinar matahari yang mantul ke langit sehingga mantul kembali ke bumi dan menyebabkan suhu bumi menjadi tinggi, akibatnya hutan menjadi mudah terbakar karena suhu permukaan bumi menjadi tinggi.

Walaupun hujan mampu untuk memadamkan api namun rata-rata musim hujan lebih pendek dari musim kemarau di tiap tahun. Akibatnya, banyak para petani membuka lahan dengan cara membakar hutan atau belukar, kebakaran makin meluas, karbondioksida bertambah banyak di udara dan suhu udara semakin tinggi, pertanian mengalami gagal panen akbiat kemarau dan air laut di daerah pantai makin masuk jauh kedaratan.

Ada 32 desa yang terdapat di sekitar TN. Berbak. Pemerintahan Kecamatan, Balai TNB Dishut Jambi dan Gita Buana berupaya untuk penyelenggara inisiatif ini. Bentuk inisiatif ini berupa kegiatan sosialisasi dengan teknis pelaksanaan berupa pertemuan kampung. Tujuan pertemuan kampung ini untuk membangun inisiatif peduli udara bersih yang dihadiri dari elemen masyarakat berasal dari; Pemerintahan Desa, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Pengusaha Lokal/Toke, Ibu-ibu/Kelompok Wanita, Generasi Muda-mudi serta lembaga yang memiliki ruang aktivitas dalam desa tersebut.

Pertemuan kampung ini dilaksanakan dalam beberapa segment, yaitu pengantar dan penjelasanan dari pemerintahan kecamatan, Pemahaman materi tentang REDD+ oleh Balai TNB Dishut Jambi sebagai badan pemerintah yang bertanggungjawab atas kelestarian dan Gita Buana sebagai lembaga swadaya masyarakat berperan mendorong serta membangun untuk menggali rencana strategi jangkah menengah mereka. Udara bersih desa harus berkorelasi dengan peningkatan ekonomi serta kelestarian hutan dengan cara pola produksi HHBK (hasil hutan bukan kayu) serta membangun prilaku kepemimpinan, komitmen dan motivasi.

Untuk mengukur keberhasilan pemahaman membangun inisiatif udara bersih pada kegiatan sosialsisai yang dilakukan oleh Gita Buana dengan menggunakan model pengukuran berupa pengukuran metode kuantitatif dengan alat ukur berupa kuestioner. Variabel yang terlibat dalam mengukur keberhasilan inisiatif ini menggunakan variabel; kepuasan peserta, kualitas pelayanan, motivasi, kepemimpinan dan komitmen. Dari quesioner ini akan di ukur kemampuan peserta dalam menyerap materi untuk pemahaman tentang REDD+ serta mengukur kualitas pelayanan Gita Buana dalam membangun inisiatif udara bersih terhadap masayarakat dan stake holder.

Korelasi Udara Bersih dan Karbon 
Bagi masyarakat yang kesejahteraanya tergantung pada pertanian atau perkebunan tentunya akan mengalami penurunan pendapatan oleh perubahan cuaca yang tidak menguntungkan. Kerusakan alam yang disebabkan oleh karbon karena menghadang laju sinar matahari ke langit merupakan masalah yang sedang kita hadapi. Ada cara untuk membersihakan karbon di udara dengan cara menjaga hutan dan menanam pohon, karena daun pada siang hari berfotosintesis menyerap karbon di udara dan melepaskan oksigen sebagai bentuk udara bersih. Jika ini bisa dipahami maka pihak pemerintah dan organisasi lingkungan dengan mudah bersama masyarakat bisa menjaga kelestarian hutan khususnya hutan Taman Nasional Berbak karena hakikat dan hirarki dari pemahaman tentang udara bersih.

Sinar matahari yang sampai ke bumi akan mantul kembali ke atas bumi namun dalam perjalan ke langit sinar tersebut terhadang oleh unsur karbon dan selanjutnya mantul kembali ke bumi dan seterusnya. Akibat dari sinar matahari yang terus memantul yang terjebak oleh lapisan karbon di sekililing bumi maka sinar tersebut menaikan suhu permukaan bumi, gejala ini yang dikenal dengan istilah pemanasan global. Karbon berasal dari polusi industri negara maju dan kebakaran hutan di negara berkembang. Efek atau dampak ini disebut “efek rumah kaca”.

Efek rumah kaca yang menyebabkan naiknya suhu bumi selanjutnya akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim, misalnya; kemarau yang berkepanjangan yang menimbulkan kebakaran dan selanjutnya akan menambah tinggi kosentrasi karbon di udara. Akibatnya, keseimbangan ekosistem bumi akan mengalami gangguan dan menimbulkan kerusakan-kerusakan di permukaan bumi, akhirnya bumi hancur.

Adanya ancaman untuk bumi akibat efek rumah kaca, kami dari Gita Buana peduli terhadap bumi dan akan membangun peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang solusi-solusi untuk mengantisipasi ancaman yang dihadapi oleh bumi pada wilayah kerja kami (32 desa di perbatasan TN. Berbak). Inisiatif ini kami bangun untuk mempermudah masyarakat kecil (penduduk desa) dalam pemahaman skema REDD+ dengan di mediasi kata kunci “udara bersih”.

Udara bersih lebih mudah dipahami oleh masyarakat desa karena udara bersih lebih banyak terdapat di desa. Melalui udara bersih, pemahaman karbon atau REDD+ lebih mudah untuk dimengerti masyarakat desa. Dari model ini Gita Buana berangkat untuk membangun pemahaman dan pengertian skema REDD+.

Banyaknya karbon di udara dapat dibersihkan oleh daun-daun tanaman dan hutan. Daun tanaman pada siang hari akan berfotosintesis (membuat zat hijau daun). Pada proses fotosintesis tersebut daun membutuhkan karbon di udara (CO2). Daun tanaman akan mengambil C (karbon) di udara dan melepaskan O2 (oksigen), udara pun bersih. Dengan memelihara pohon masyarakat sudah menciptakan udara bersih dan secara tidak langsung telah menghambat kerusakan bumi.

Dengan menggunakan kata udara bersih, masyarakat cepat memahaminya. Udara bersih dan karbon adalah kata yang bertolak belakang namun memiki fungsi yang sama dalam konsep REDD+ (pengurangan efek rumah kaca, penyerapan racun udara dan membuat udara bersih). Dengan menggunakan kata kunci udara bersih, skema REDD+ mudah dipahami oleh masyarakat desa dan ini memungkinkan untuk meningkatkan inisiatif atau kesadaran untuk tidak merusak hutan.

Sulit sekali untuk menterjemahkan karbon pada tingkat masyarakat desa dikarenakan jarang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maksud dari kegiatan rapat akbar ini adalah untuk menjawab pertanyaan “Bagaima sebuah kata seperti udara bersih mampu memahami penjelasan lebih dalam tentang karbon dalam skema REDD+? Secara lebih spesifik, kegiatan ini memiliki tiga tujuan, yaitu; memberi pemahaman tentang karbon melalui kata udara bersih di tingkat masyarakat desa, mengukur tingkat pemahaman peserta dan membuat rencana strategis jangka menengah untuk kegiatan udara bersih TN. Berbak.

Secara empiris, banyak para ahli atau lembaga peneliti mengkaji tentang skema REDD+ untuk memperkecil kandungan karbon di udara. Oleh sebab itu, Gita Buana akan melakukan kegiatan pemahaman skema REDD+ dengan pendekatan berupa; Membangun Inisiatif kepedulian terhadap Udara Bersih Pada Masyarakat Desa di Sekitar Taman Nasional berbak Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupoaten Tanjung Jabung Timur pada propinsi Jambi. 


Penulis : 
Oldy A. A. 

Target Pembaca :
Masyarakat Desa di Sekitar TN. Berbak, Pemerintah Kab. Ma. Jambi dan Kab. Tanjab Timur serta Balai TN. Berbak dan Masyarakat Internet

Jenis tulisan : 
Proses penguatan pemahaman tentang REDD+ di masyarakat 

Tujuan Tulisan :
 Untuk memberi pemahaman tentang REDD+ kepada masyarakat desa di sekitar TN. Berbak Jambi dan pemerintahan Kab. Ma. Jambi serta Kab. Tanjab Timur


















Penyebab naiknya suhu permukaan bumi karena akibat efek rumah kaca





Kamis, 13 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012

Gita Buana for community awareness-raising activities around Berbak National Park


Oleh : Oldy A.A – Gita Buana

 ABSTRAK

Udara bersih adalah model pendekatan untuk memahami penjelasan karbon dalam skema REDD+. Masyarakat desa sangat sulit untuk memahami istilah karbon dalam skema REDD+. Kata karbon muncul pada tahun-tahun belakang ini dan merupakan kata baru sehingga pemahamannya pun perlu waktu. Namun, kata udara udara bersih telah mereka pahami sejak zaman dulu. Ada korelasi kata karbon dengan kata udara bersih dalam meningkatkan pemahaman skema REDD+. Maksud dari kegiatan ini untuk membangun inisiataif kepedulian  terhadap udara bersih kepada masayarakat desa di sekitar TN. Berbak – Jambi. Masyarakat desa dengan mudah memahami karbon dan skema REDD+ melalui pendekatan kata udara bersih.

Kenapa udara bersih ? Karbon yang ada di udara adalah penghalang sinar matahari ke mantul ke langit sehingga mantul kembali ke bumi dan menyebabkan suhu bumi menjadi tinggi, akibatnya hutan menjadi mudah terbakar karena suhu permukaan bumi menjadi tinggi. Walaupun hujan mampu untuk memadamkan api namun rata-rata musim hujan lebih pendek dari musim kemarau di tiap tahun. Akibatnya, kebakaran makin meluas, karbon bertambah banyak di udara dan suhu udara semakin tinggi, pertanian mengalami gagal panen akbiat kemarau dan air laut di daerah pantai makin masuk jauh kedaratan.

Bagi masyarakat yang kesejahteraanya tergantung pada pertanian atau perkebunan tentunya akan mengalami penurunan pendapatan oleh perubahan cuaca yang tidak menguntungkan. Kerusakan alam yang disebabkan oleh karbon karena menghadang laju sinar matahari ke langit merupakan masalah yang sedang kita hadapi. Ada cara untuk membersihakan karbon di udara dengan cara menjaga hutan dan menanm pohon, karena daun pada siang hari berfotosintesis menyerap karbon di udara dan melepaskan oksigen sebagai bentuk udara bersih. Jika ini bisa dipahami maka pihak pemerintah dan organisasi lingkungan dengan mudah bersama masyarakat bisa  menjaga kelestarian hutan khususnya hutan Taman Nasional Berbak karena hakikat dan hirarki dari pemahaman tentang udara bersih.

Metodologi yang digunakan dalam membangun inisiatif peduli udara bersih ini menggunakan model pertemuan / diskusi kampong atau pertemuan yang interaktif dengan melibatkan nara sumber penting yang terlibat dalam kegiatan REDD+ sebagai penguat pemahaman dalam membangun inisiatif udara bersih dan akhirnya elemen masyarakat dari beberapa desa sebagai peserta diarahkan diskusi untuk merencanakan pembangunan inisiatif udara bersih di desa mereka. Ada 32 desa yang terlibat dan terbagi dalam 6 klaster di 4 kecamatan dalam 2 kabupaten yang terlibat dalam kegiatan ini dengan durasi waktu kegiatan selama lima bulan. Pemerintahan dan organisasi lingkungan yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu; Pemerintahan Kecamatan, Balai TNB Dishut Jambi dan Gita Buana sebagai badan penyelenggara inisiatif ini. Pertemuan / diskusi kampong ini untuk membangun inisiatif peduli untuk udara bersih yang dihadiri dari elemen masyarakat berasal dari; Pemerintahan Desa, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Pengusaha Lokal/Toke, Ibu-ibu/Kelompok Wanita, Generasi Muda-mudi serta lembaga yang memiliki ruang aktivitas dalam desa tersebut.

Pertemuan / diskusi kampong  ini dilaksanakan selama satu hari terbagi dalam beberapa segment, yaitu; pembukaan oleh protokol, sambutan dan pencerahan dari pemerintahan kecamatan, pemahaman materi tentang REDD+ oleh Balai TNB Dishut Jambi dan Gita Buana  serta membangun diskusi untuk menggali rencana strategi jangkah menengah mereka dalam mewujudkan udara bersih desa yang berkorelasi dengan peningkatan ekonomi serta kelestarian hutan menggunakan pola HHBK (hasil hutan bukan kayu) serta membangun prilaku kepemimpinan, pemahaman tentang komitmen dan motivasi.

Untuk mengukur keberhasilan inisiatif udara bersih pada kegiatan tersebut yang dilakukan oleh Gita Buana, kami menggunakan model ukur metode kuantitatif dengan alat ukur berupa quesioner. Variabel yang terlibat dalam mengukur keberhasilan inisiatif ini menggunakan variabel; kepuasan peserta, kualitas pelayanan, motivasi, kepemimpinan dan komitmen. Quesioner diserahkan pada saat jam makan siang dan dikumpulkan pada saat akan pulang. Dari quesioner ini akan di ukur kemampuan peserta dalam menyerap materi untuk pemahaman tentang REDD+ serta mengukur kualitas pelayanan Gita Buana dalam membangun inisiatif  udara bersih terhadap masayarakat dan stake holder.


A.        Latar Belakang

Sinar matahari yang sampai ke bumi akan mantul kembali ke atas bumi namun dalam perjalan ke langit sinar tersebut terhadang oleh unsur karbon dan selanjutnya mantul kembali ke bumi dan seterusnya. Akibat dari sinar matahari yang terus memantul yang terjebak oleh lapisan karbon di sekililing bumi maka sinar tersebut menaikan suhu permukaan bumi, gejala ini yang dikenal dengan istilah pemanasan global. Karbon berasal dari polusi industri negara maju dan kebakaran hutan di negara berkembang. Efek atau dampak ini disebut “efek rumah kaca”.

Efek rumah kaca yang menyebabkan naiknya suhu bumi selanjutnya akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim, misalnya; kemarau yang berkepanjangan yang menimbulkan kebakaran dan selanjutnya akan menambah tinggi kosentrasi karbon di udara. Akibatnya, keseimbangan ekosistem bumi akan mengalami gangguan dan menimbulkan kerusakan-kerusakan di permukaan bumi, akhirnya bumi hancur.

Adanya ancaman untuk bumi akibat efek rumah kaca, kami dari Gita Buana peduli terhadap bumi dan akan membangun peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang solusi-solusi untuk mengantisipasi ancaman yang dihadapi oleh bumi pada wilayah kerja kami (32 desa di perbatasan TN. Berbak). Inisiatif ini kami bangun untuk mempermudah masyarakat kecil (penduduk desa) dalam pemahaman skema REDD+ dengan di mediasi kata kunci “udara bersih”.

Udara bersih lebih mudah dipahami oleh masyarakat desa karena udara bersih lebih banyak terdapat di desa. Melalui udara bersih, pemahaman karbon atau REDD+ lebih mudah untuk dimengerti masyarakat desa. Dari model ini Gita Buana berangkat untuk membangun pemahaman dan pengertian skema REDD+.

Banyaknya karbon di udara dapat dibersihkan oleh daun-daun tanaman dan hutan. Daun tanaman pada siang hari akan berfotosintesis (membuat zat hijau daun). Pada proses fotosintesis tersebut daun membutuhkan karbon di udara (CO2). Daun tanaman akan mengambil C (karbon) di udara dan melepaskan O2 (oksigen), udara pun bersih. Dengan memelihara pohon masyarakat sudah menciptakan udara bersih dan secara tidak langsung telah menghambat kerusakan bumi.

Dengan menggunakan kata udara bersih, masyarakat cepat memahaminya. Udara bersih dan karbon adalah kata yang bertolak belakang namun memiki fungsi yang sama dalam konsep REDD+ (pengurangan efek rumah kaca, penyerapan racun udara dan membuat udara bersih). Dengan menggunakan kata kunci udara bersih, skema REDD+ mudah dipahami oleh masyarakat desa dan ini memungkinkan untuk meningkatkan inisiatif atau kesadaran untuk tidak merusak hutan.

Inisiatif ini di bangun dalam bentuk pertemuan dengan masyarakat desa sekitar TN. Berbak melalui pemahaman-pemahaman yang melibatkan Pemerintahan Kecamatan, Balai Taman Nasional Berbak, dan Gita Buana. Pada tingkat masyarakat sebagai peserta diwakili oleh stakeholder lokal (Pemerintahan Desa, Tokoh Adat, Gender, Generasi Muda-mudi, Tokoh Agama, Pengusaha Lokal/Toke, dan pihak luar yang aktivitas nya ada pada desa di yang berbatasan dengan TN. Berbak.


Sulit sekali untuk menterjemahkan karbon pada tingkat masyarakat desa dikarenakan jarang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maksud dari kegiatan rapat akbar ini adalah untuk menjawab pertanyaan “Bagaima sebuah kata seperti udara bersih mampu memahami penjelasan lebih dalam tentang karbon dalam skema REDD+? Secara lebih spesifik, kegiatan ini memiliki tiga tujuan, yaitu; memberi pemahaman tentang karbon melalui kata udara bersih di tingkat masyarakat desa, mengukur tingkat pemahaman peserta dan membuat rencana strategis jangka menengah untuk kegiatan udara bersih TN. Berbak.

Secara empiris, banyak para ahli atau lembaga peneliti mengkaji tentang skema REDD+ untuk memperkecil kandungan karbon di udara. Oleh sebab itu, Gita Buana akan melakukan kegiatan pemahaman skema REDD+ dengan pendekatan berupa; Membangun Inisiatif kepedulian terhadap Udara Bersih Pada Masyarakat Desa di Sekitar Taman Nasional berbak Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupoaten Tanjung Jabung Timur pada propinsi Jambi.

 B.        Perumusan Masalah Kegiatan

Gita Buana merupakan lembaga sosial kemasyarakatan yang berfokus pada kegiatan konservasi hutan dan lingkungan alam mencoba menggagas untuk meningkatkan pemahan karbon dalam skema REDD+ dengan menggunakan kata udara bersih. Kurangnya pemahaman masayarakat desa untuk pengertian karbon dan REDD+ merupakan masalah penting dalam penerapan sistem REDD+ di sekitar TN. Berbak.

Sistem REDD+ yang masih dalam penyempurnaan, pemahan karbon yang kurang dalam merupakan masalah penting dalam memahami hakikat karbon dan REDD+ itu sendiri. Perlu adanya pendekatan kata baru yang memiliki hakikat dan hirarki yang sama untuk tujuan REDD+, yaitu kata “udara bersih”. Rendahnya kemampuan intelektual dan kemampuan intelejensia masyarakat desa tentang pemaham karbon dan REDD+ merupakan dasar kegiatan ini untuk mensosialisasi pemahan tersebut. Dari  Selanjutnya Gita Buana akan melakukan kegiatan Pertemuan / diskusi kampong apakah dengan menggunakan kata udara bersih masyarakat mampu memahami konsep karbon dalam skema REDD+

Berdasarkan paparan di atas, masalah yang mendasar dari kegiatan ini dapat dikemukan sebagai berikut; “Bagaimana pengaruh kata udara bersih mampu meningkatkan pemahaman karbon dalam skema REDD+ di sekitar TN. Berbak”

Untuk menjawab pertanyaan yang mendasar ini maka dikemukakan beberapa pendekatan yang melibatkan variabel manajemen sumberdaya manusia dan dokumen rencana strategis jangka menengah untuk udara bersih. Berdasarkan pertimbangan ini maka diajukan pertanyaan kegiatan sebagai berikut;

1.       Bagaimana peran pembicara mampu mentrasferkan pengetahuan tentang pemahan karbon dalam skema REDD+?
2.       Bagaimana transfer pengetahuan pemahaman untuk karbon dan REDD+ dapat di ukur ?
3.       Bagaimana rencana strategis jangka menengah untuk udara bersih TN. Berbak ?

C.        Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini  secara mendasar ingin mengetahui pengaruh Pertemuan / diskusi kampong yang dihadiri dari peserta yang berasal dari elemen masyarakat desa dan pemateri dari pemerintahan dan organisasi lingkungan dalam pemahaman karbon dan REDD+ melalui kata udara bersih. Tujuan spesifik dari penelitian ini diungkapkan sebagai berikut;

1.    Untuk menjelaskan pemahan karbon dalam skema REDD+ dari hulu ke hilir oleh pihak yang memahmi karbon terhadap elemn masyarakat desa.
2.    Untuk mengukur pemahaman peserta terhadap karbon dan skema REDD+ menggunakan variabel manajemen sumberdaya manusia.
3.    Untuk menentukan rencana strategis jangkah menengah terhadap kepedulian udara bersih di TN. Berbak.

 D.        Manfaat Kegiatan

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kepentingan kelestarian hutan, kepentingan keilmuan atau akademik maupun kepentingan praktisi atau kepentingan manajerial.

1.    Kepentingan kelestarian hutan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kelestarian hutan karena penting nya daun-daun pohon untuk menyerap karbon sebagai racun di udara.
2.    Kepentingan akademik. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah atau memperkaya pemahaman mengenai konsep karbon dan REDD+.
3.    Kepentingan praktisi atau manajerial. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan masukan penting bagi manajemen organisasi khusus nya Gita Buana dalam membangun inisitiaf kepedulian terhadap udara bersih.


E.    Hipotesis-hipotesis kegiatan

Kegiatan ini untuk membangun inisiatif kepedulian terhadap udara bersih pada masyarakat desa di sekitar TN. Berbak – Jambi, dengan demikian Gita Buana akan mengajukan dugaan sementara, yaitu;

1.  Kegiatan Pertemuan / diskusi kampong mampu menjelaskan pemaham karbon dalam skema REDD+ yang disampaikan oleh pembicara atau pemateri.
2.    Kata udara bersih mampu membuat peserta paham tentang konsep karbon dan skema REDD+.
3. Variabel manajemen sumber daya manusia mampu untuk mengukur sejauh mana peserta memahami kegiatan rapat akbar.
4.  Pertemuan / diskusi kampong mampu menghasilkan dokumen rencana strategi jangka menengah untuk kepedulian udara bersih di  setiap desa di sekitar TN. Berbak.







Sabtu, 01 Desember 2012

Rabu, 14 November 2012

Hubungan Perilaku Manusia dengan Lingkungan

Mery dan Tryst (dalam Soesilo, 1989) melihat bahwa hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan suatu jalinan transactional interdependency atau terjadinya ketergantungan satu sama lain. Hal ini hampir sama dengan pendapat Guilford, yaitu bahwa manusia mempengaruhi lingkungannya. Untuk selanjutnya lingkungan akan mempengaruhi manusia, demikian pula terjadi sebaliknya. Manusia dan lingkungan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, keduanya sama-sama memberikan sumbangsih. Manusia membutuhkan lingkungan untuk hidup dan berperilaku, sedangkan tanpa manusia lingkungan tidak akan pernah ada. Lingkungan adalah pemberi stimulus terbesar dalam kehidupan manusia. Lingkunganlah yang mengajarkan individu untuk merespon dan melakukan sesuatu.


1. Perilaku spasial (jarak) manusia

Perilaku spasial adalah perilaku individu yang berhubungan dengan jarak dalam interaksi baik secara fisik maupun psikologis. Perilaku spasial adalah bagaimana orang menggunakan tatanan dalam lingkungannya. Perilaku spasial berhubungan dengan ruang pribadi dan teritorial :

a.  Ruang pribadi / RP ( personal space )
Ruang pribadi adalah kawasan sekitar seseorang yang mereka anggap sebagai psikologis mereka. Gagasan ruang pribadi berasal dari Edward T. Hall Ruang pribadi itu sebuah tempat yang tidak terbatas oleh bentuk fisik . ruang pribadi adalah tempat untuk menjadi diri kita sendiri. Melakukan sesuatu yang menjadi passion kita. Keinginan yang terpendam, yang sangat bernafsu untuk kita wujudkan dan kerjakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara dengan orang lain, kita membuat jarak terhadap orang yang kita ajak bicara, jarak ini sangat bergantung pada bagaimana sikap dan persepsi kita terhadap orang tersebut. Persepsi ruang inilah yang disebut oleh J.D. Fisher sebagai personal space. Personal space didefinisikan sebagai suatu batas maya yang mengelilingi kita yang dirasakan sebagai wilayah pribadi kita dan tidak boleh dilalui oleh orang lain.

Ruang pribadi sering diukur melalui jarak fisik seseorang, Edward Hall (1959) seorang pakar antropologi, mengajukan 4 daerah pokok untuk seseorang melakukan interaksi interpersonal:
  1. Jarak intim (0-18 inci).m Jarak seperti ini digambarkan oleh Edward bercumbu, berciuman, senggama, oral seks, dan ibu yang menyusui anak nya.
  2. Jarak pribadi (18 inci- 4 kaki). Jarak seperti ini digambarkan ileh edward seperti bercakap-cakap.
  3. Jarak sosial ( 4-7 kaki). Jarak seperti ini digambarkan oleh Edward seperti orang yang melakukan bisnis (metting).
  4. Jarak public (12-25 kaki). Jarak seperti ini digambarkan oleh Edward seperti orang lain berteriak memanggil orang lain.
b. Teritorial
Teritorial adalah tempat yang dimiliki atau dikuasai oleh seorang individu. Perilaku teritorial akan memberikan informasi dimana daerah teritorial seseorang. Almant membagi daerah teritorial menjadi 3, yaitu sbb:

  1. Teritorial Primer. Daerah ini dimiliki secara keseluruhan, misalnya: rumah, apartemen, ruang kerja pribadi. Ini dikelola secara relative permanen dan merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Teritorial Sekunder. Daerah ini digunakan secara teratur, tetapi digunakan bersama orang lain. Misalnya : rumah keluarga, laboratorium dll.
  3. Teritorial public. Daerah ini digunakan untuk kepentingan umum yang teritorialnya biasanya pemerintah, misalnya taman bermain, perpustakaan.
c. Perbedaan Perilaku Spasial Manusia
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku spasial yang berbeda-beda antar individu, antara lain :

  1. Jenis Kelamin. Umumnya laki-laki memiliki ruang yang lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang berdiri sendiri. 
  2. Umur. Makin bertambah usia seseorang, makin besar ruang personalnya, ini ada kaitannya dengan kemandirian. Pada saat bayi, hampir tidak ada kemampuan untuk menetapkan jarak karena tingkat ketergantungan yang makin tinggi. Pada usia 18 bulan, bayi sudah mulai bisa memutuskan ruang personalnya tergantung pada orang dan situasi. Ketika berumur 12 tahun, seorang anak sudah menerapkan RP seperti yang dilakukan orang dewasa.
  3. Kepribadian. Orang-orang yang berkepribadian terbuka, ramah atau cepat akrab biasanya memiliki RP yang lebih kecil. Demikian halnya dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih kecil. Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain, demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru. 
  4. Kekuasaan dan Status. Makin besar perbedaan status makin besar pula jarak antar personalnya. 
  5. Pengaruh Lingkungan Fisik. Ruang personal juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik. Di ruang dengan cahaya redup orang akan nyaman jika posisinya lebih berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau kecil. Orang juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah ruangan. Dan beberapa variasi lain seperti budaya, religi dan suku/etnis.

2. Rasa Sesak Dan Sepi

Rasa yang dirasakan seseorang terlalu sempit dan tidak memiliki ruang, keadaan ini sangat relatif, tergantung perasaan seseorang. Keadaan sesak ini lebih kepada negative, jika kita merasakan sesak maka kita akan kurang senang dan mengeluh.

Rasa sesak sangat dipengaruhi oleh perasaan, tidak peduli dengan besar ruangan. Contohnya: jika kita berenang di pantai yang sepi, ada beberapa orang yang hadir maka kita akan merasa sesak, ini sangat berhubungan dengan perasaan dan mood kita saat itu.
Sedangkan rasa sepi dimana seseorang merasa sendiri dan tidak bisa merasakan kehangatan orang-orang disekitarnya, perasaan juga sangat mempengaruhi keadaan orang yang sedang sepi atau tidaknya. Misalnya di taman walaupun orang ramai tetapi kita merasa sendiri di dalam keramaian tersebut.


3. Stres Lingkungan

Stres lingkungan adalah stres yang disebabkan oleh gangguan lingkungan, disebabkan oleh alam. Contoh stres lingkungan adalah kejadian seperti gempa bumi, banjir maupun longsor. yang akan mengubah hal tersebut sangatlah banyak, tetapi kita perlu cermati bahwa banyak kejadian sehari-hari yang membuat kita stres, seperti kebisingan, panas, polusi udara dll.

Penelitian stres lingkungan kita pusatkan pada kebisingan, pada dunia yang modern pada saat ini, kebisingan disebabkan oleh bunyi mesin, suara musik yang keras. Disini kita akan membagi kebisingan menurut lama waktu / durasi:

  1. Kebisingan jangka pendek. Kadang-kadang kita mendengar suara ledakan tabung gas 3 kg, ataupun kerusakan audio di tempat umum (mesjid, bel sekolah, dll), atau ledakan dinamit. Suara keras seperti itu bisa membuat kita terkejut, dan respon kita seperti meloncat, meneganggkan otot-otot perut kita, berkedip, dll. Jelas sekali gangguan seperti itu sangat mengganggu kita untuk bekerja seperti biasanya.Biasanya adaptasi seseorang setelah mendengar ledakan tersebut akan cepat kembali membaik, asalkan tidak menimbulkan kerusakan fisik. Sekitar 10 menit pendengaran akan kembali seperti biasanya.Penting bagi kita untuk memprediksi kebisingan, karena sebelum kita mendengarkan suarayang keras kita akan lebih dulu merespon untuk menghindari suara kebisingan tersebut.
  2. Kebisingan jangka panjang. Beberapa penelitian di New York mengatakan kebisingan sangat dipengaruhi oleh rancangan atau arsitektur bangunannya, lantai yang lebih rendah akan selalu lebih bising dari pada lantai yang jaraknya tinggi, dan situasi ini sangat memungkinkan untuk dilakukan eksperimen.bCohen, Glass dan Singer mengadakan eksperimen kepada anak-anak yang tinggal di apartemen lebih dari 4 tahun, hasilnya tampak sangat jelas bahwa anak-anak yang berada si apartemen yang lebih bising mempengaruhi menurunnya kemampuan intelektualnya.
  3. Bagaimana Kebisingan Mempengaruhi Interaksi Sosial. Salah satu kesimpulan yang bisa diambil adalah kebisingan sangat mempengaruhi kemampuan seseorang memperhatikan isarat-isarat sosial. Dan salah satu yang penelitian yang lain, orang yang berjalan kaki di tempat yang ramai lebih sedikit untuk mengingat semua yang ada di sekitarnya.
  4. Psikologi Arsitektural. Rancangan arsitektural adalah suatu lingkungan buatan yang di desain untuk kenyamanan manusia. Salah satu pertanyaan paling menarik adalah bagaimana perancangan bangunan sekolah, atau pusat perbelanjaan mempengaruhi perilaku kita?. Memang, struktur yang kita hasilkan atau yang biasa disebut lingkungan binaan merupakan bagian dari dunia kita yang sangat penting.
Beberapa rumah tampak menyenangkan untuk ditempati dan yang lain tidak, beberapa toko mampu memberikan kenyamanan dengan tata ruang dan tata letak yang baik bagi pengunjungnya. Hal ini karena lingkungan binaan sangat mempengaruhi perilaku kita. Menurut fisher dkk (1984) sampai saat ini, pengaruh desain arsitektur terhadap perilaku seringkali masih dipandang kecil. Meskipun direncanakan secara umum, rancangan kota dan bangunan-bangunannya jarang sekali mempertimbangkan bagaimana kota dan bangunan tersebut mempengaruhi perilaku manusia.

Ada 4 pandangan tentang seberapa besar arsitektur mempengaruhi perilaku manusia :
  1. Pendekatan kehendak bebas (free-will approach), pendekatan ini beranggapan bahwa lingkungan tidak memberikan dampak apapun terhadap perilaku. 
  2. Determenisme arsitektural, lingkungan yang dibangun mempengaruhi perilaku manusia yang ada didalamnya
  3. Kemungkinan lingkungan (environment posibibilism ), lingkungan tidak sepenuhnya mempengaruhi perilaku individu
  4. Probabilisme lingkungan, individu dapat memilih variasi respon terhadap berbagai situasi lingkungan.
  5. Kehidupan Kota Besar. Amerika dan Kanada lebih dari 70% penduduknya tinggal di kota besar. Selain masalah finansial, ada masalah kriminalitas, Sekolah yang tidak berfungsi, jadi pandangan orang akan negativ jika mendengar kota.
Lingkungan fisik dan sosial sangat mempengaruhi apa yang terjadi di kota-kota besar. Dilihat dari lingkungan fisiknya lingkungan kota lebih bising, kotor, dan lebih tercemar dibandingkan desa. Sedangkan kontek hubungan sosial dari pada desa adalah dikota lebih sesak manusia dari pada di desa, dan juga penduduk kota beragam etnis, budaya dan ras nya. Ini memungkinkan terjadi penurunan pernikahan. 

Jika kita pandang dari kesehatan fisik dan mental, kehidupan kota besar dan kecil maupun desa relatif sama tidak jauh berbeda, hanya saja fisik orang di desa akan jauh lebih baik dari pada orang yang tinggal di kota, karena kurang nya populasi udara dan akan tercemar nya lingkungan mereka.

Relasi sosial di kota lebih sedikit dari orang desa, karena orang kota yang dibebani kontrak yang dangkal. Itulah faktor kurang bnyak nya teman yang akrab. Sedangkan di desa orang akan memilih rumah dan pekerjaan tetap yang akan menimbulkan keakraban yang signifikannya tinggi.

Keragaman gaya hidup dikota walaupun kota enggan untuk menolong orang asing tetapi orang kota lebih menerima keragaman gaya hidup. Sedangkan orang desa yang hidupnya selalu bersama-sama dan suka menolong satu sama lain tetapi tidak akan murah untuk menerima gaya hidup yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA
  • David, o searcs jonathan, psikologi sosial (2003) new york
  • Fischer J.D (1984) new york: holt rihernathttp://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab5-ruang_personal_dan_teritorialias.pdf http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf
  • http://sandri09a.blogspot.com/2012/11/hubungan-perilaku-manusia-dengan_7257.html

Minggu, 22 Juli 2012

PERTEMUAN THEMATIC GROUP

PERTEMUAN THEMATIC GROUP  
SUSTAINABLE LIVELIHOODS INITIATIVES MODELS (SLIM)



Tanggal : 16 Juli 2012
Waktu   : pukul 09.00 – 14.30 WIB
Tempat  : Kantor Samdhana 
              Jl. Guntur No. 32 - Bogor

Peserta  : 
Rudi (KKI-WARSI), husnul (Perkumpulan Telapak), Oldy (Yayasan Gita Buana), Herbet (Yayasan Mitra Insani), Leo (Yadupa), Crissy (NTFP-EP), Natasya (NTFP-EP)








Berikut adalah hasil pertemuan thematic group slim. Terdapat 4 point yang dibicarakan yaitu timeline kegiatan, honor, biaya pertemuan thematic, dan penyusunan proposal, budget, dan workplan.  

        Timeline Kegiatan

Tahun ke-1
Tahun ke-2
Tahun ke-3
Stakeholder mapping
Event dengan pemerintah
Slim Festival
Dokumentasi
Lobby trip

Paket promosi SLIM (video)
Cost benefit analysis

Review Kebijakan



Selasa, 10 Juli 2012

STUDI DAN SURVEY SEBARAN SUKU ANAK DALAM DI SEKITAR WILAYAH PENYANGGA DAN DALAM KAWASAN HUTAN RESTORASI HARAPAN RAINFOREST (1)

Survey 1


STUDI DAN SURVEY SEBARAN SUKU ANAK DALAM ZONA III WILAYAH SUMSEL
DI DESA PAGAR DESA DAN DESA SAKOSUBAN KEC. BATANGHARI LEKO
KABUPATEN MUBA PROPINSI SUMATERA SELATAN

Pak Laung (Ketua Tim)

  
Oldy (Anggota Tim)  

SURVEY SEBARAN SUKU ANAK DALAM DI SEKITAR WILAYAH PENYANGGA DAN DALAM KAWASAN HUTAN RESTORASI HARAPAN RAINFOREST

 A.  PENDAHULUAN

Studi sebaran SAD ini bertujuan untuk mendapatkan data/informasi awal Suku Anak Dalam secara komprehensif dalam rangka Desain Strategi Pemberdayaan dan Mendapatkan Dukungan dalam Pengelolaan Hutan Restorasi Harapan rainforest.

Tujuan khusus dari survey ini untuk mendapatkan tentang; jumlah anggota SAD, penyebaran lokasi, dan prediksi lokasi mobilitas komunitas SAD; input tentang gambaran status kesehatan, pendidikan, sosial ekonomi, budaya dan kepearcayaan SAD; menyusun peta sebaran (roadmap) beserta hambatan, tantangan dan keterbatasan yang dijumpai guna identifikasi strategi, program, dan tindakan penanggulangan yang lebih sistemik dan tepat sasaran; serta mendapatkan perspektif pemberdayaan SAD berdasarkan sumberdaya sosial dan budaya yang mereka miliki dalam mendukung pengelolaan ekosistem Restorasi Ekosistem Harapan Rainforest dari Perspektif SAD.

Survey ini dilakukan  di wilayah Propinsi Sumatera Selatan di Kecamatan Batanghari Leko di dua desa yaitu; Desa Pagar Desa dan Desa Sakosuban.

B.        GAMBARAN UMUM SAD DESA PAGAR DESA

Survey SAD yang dilakukan di desa Pagar Desa di mulai dengan wawancara bersama Kepala Desa (Pak Yusrizal). Dari Pak Kades ini di dapat informasi populasi SAD yang berada di desa ini terdiri dari 70kk atau +300 jiwa yang terbagi dalam dua kelompok; yaitu Kelompok Pak Dul Sari (40kk) dan Kelompok Alm. Pak Jenggot (30kk).

Kelompok SAD di desa ini pada umum nya tidak bisa membaca dan menulis, telah memiliki tempat tinggal. Untuk kesehatan mereka menggunakan obat-obat puskesmas dan obat ramuan tradisional, khusunya untuk saat melahirkan mereka menggunakan dukun beranak dari komunitas mereka sendiri. Masih rendahnya tingkat kebersihan yang menyebabkan banyak dari mereka yang memiliki penyakit kulit. Perekonomian mereka adalah dengan menukar hasil buruan dengan barang atau uang yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan konsumsi (beras, pakaian, elektronik dan kendaraan) atau energi (minyak tanah, solar atau bensin).

Mereka menganut agam islam namun masih menggunakan ritual adat mereka dalam hal-hal tertentu, misalnya; kelahiran dan kematian. Kebudayaan mereka telahbanyak mengadopsi dari kebudayaan nasional, misalnya; mereka telah memiliki sepda motor untuk transpotasi yang dulu menggunkan perahu atau rakit, menggunakan handphone untuk berkomunikasi dan menggunakan pakaian-pakaian yang sopan (menggunakan baju, celana dan beralas kaki).

Komunitas SAD di Desa Pagar Desa ini berlokasi dipemukiman masyarakat (sepanjang sungai Lalan) dan di DAS sungai Badak. Untuk Komunitas SAD di DAS S. Badak terdapat 12kk (48jiwa) telah memiliki rumah (12 rumah) dan lahan masing-masing kk 2 ha (total 24ha) yang digunakan untuk bercocok tanam kebun karet. Bantuan tersebut di peroleh dari bantuan WKS. Informasi ini diterima dari wawancara dengan Pak Isnen (Pembina SAD dari WKS yang merupakan masyarakat desa Pagar Desa.

SAD yang berada di desa dan di S. Badak (wilayah desa ini) masih satu keluarga. Mereka merupakan anak-anak dari Alm. Pak Jenggot. Untuk di Desa Pagar Desa di pimpin oleh Pak Dul Sari (anggota; Pak Unus, Pak Mina, Pak Abas dll) dan untuk di S. Badak di pimpin oleh Pak Pendi dan rombongan.

Mereka, SAD di Desa Pagar Desa juga masih satu keluraga dengan SAD di Desa Sakosuban. Alm. Pak jenggot masih sepupuan dengan Alm. Pak Awing. Mereka telah ada sejak dahulu kala (adanya makam nenek moyang mereka). Berdasarkan informasi dari Pak Isnen asal mereka, dari pihak laki berasal dari Jambi dan pihak perempuan berasal dari Sakosuban.

 C.        GAMBARAN UMUM SAD DESA SAKOSUBAN

Hasil wawancara dengan anggota Masyarakat SAD (Farida) mereka berasal dari Kerajaan Belido dengan nama rajanya Sam Semilai, namun Farida tidak banyak mengetahui asal-asul dan menujuk untuk menemui Wakunca (Pak Basri). Setelah menuju tempat kediman wak kunca, beliau sedang masuk hutan untuk berburu. Kelompok Wak Kunca ini di pimpin oleh Pak Nahodi. Mereka terdiri dari 25kk (50jiwa). Nama-nama anggota mereka antara lain; M. Hasan (Punjung), Farida, Narti, Safei, Kowi, Nahodi dan Burmawi.

Selanjutnya dilakukan wawancara bersama Kepala Desa Sakosuban (Ibu Tri Astuti). Informasi yang diberikan oleh Ibu Tuti berupa sosial ekonomi, kepercayaan dan budaya masih serupa dengan komunitas SAD di Desa Pagar Desa.

Jumlah keseluruhan SAD yang ada di desa ini sebanyak 58kk (+267jiwa) masing-masing telah memiliki rumah bantuan dari Depsos. Namun saat ini hanya tinggal 9 rumah (9kk) sisanya masuk hutan

 D.        PETA SEBARAN SAD DI KAB. MA. JAMBI DAN KAB. MUBA


  FOTO-FOTO SURVEY STUDI SEBARAN SUKU ANAK DALAM
(TOKOH INFORMAL DAN TOKOH FORMAL)

SAD DESA TANJUNG SARI (UNIT 22 – BAHAR SELATAN)


Studi Informasi SAD unit 22 bersama Pak Noris
(Tokoh informal SAD/sumando)   # 1



Studi Informasi SAD unit 22 bersama Pak Noris
(Tokoh informal SAD/sumando)   # 2


SAD DESA TANJUNG LEBAR

Studi Informasi SAD desa Tanjung Lebar bersama Bapak Edi Ramzi
(Kepala Desa/tokoh informal SAD/sumando)
Studi Informasi bersama Pak Kades dan Pak Gandi
 (Pak Gandi adalah tokoh Formal SAD/Tokoh Pembaharuan)


Kantor-kantor


Lihat JAMBI PROVINCE GOVERMENT di peta yang lebih besar
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jaringan Jalan

Jaringan Jalan

TERAKHIR DI UPDATE GOOGLE

Kebun Mangrove

Kebun Mangrove

Struktur Sungai

Struktur Sungai

POLA RUANG SUMATERA

POLA RUANG SUMATERA