Rabu, 14 November 2012

Hubungan Perilaku Manusia dengan Lingkungan

Mery dan Tryst (dalam Soesilo, 1989) melihat bahwa hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan suatu jalinan transactional interdependency atau terjadinya ketergantungan satu sama lain. Hal ini hampir sama dengan pendapat Guilford, yaitu bahwa manusia mempengaruhi lingkungannya. Untuk selanjutnya lingkungan akan mempengaruhi manusia, demikian pula terjadi sebaliknya. Manusia dan lingkungan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, keduanya sama-sama memberikan sumbangsih. Manusia membutuhkan lingkungan untuk hidup dan berperilaku, sedangkan tanpa manusia lingkungan tidak akan pernah ada. Lingkungan adalah pemberi stimulus terbesar dalam kehidupan manusia. Lingkunganlah yang mengajarkan individu untuk merespon dan melakukan sesuatu.


1. Perilaku spasial (jarak) manusia

Perilaku spasial adalah perilaku individu yang berhubungan dengan jarak dalam interaksi baik secara fisik maupun psikologis. Perilaku spasial adalah bagaimana orang menggunakan tatanan dalam lingkungannya. Perilaku spasial berhubungan dengan ruang pribadi dan teritorial :

a.  Ruang pribadi / RP ( personal space )
Ruang pribadi adalah kawasan sekitar seseorang yang mereka anggap sebagai psikologis mereka. Gagasan ruang pribadi berasal dari Edward T. Hall Ruang pribadi itu sebuah tempat yang tidak terbatas oleh bentuk fisik . ruang pribadi adalah tempat untuk menjadi diri kita sendiri. Melakukan sesuatu yang menjadi passion kita. Keinginan yang terpendam, yang sangat bernafsu untuk kita wujudkan dan kerjakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara dengan orang lain, kita membuat jarak terhadap orang yang kita ajak bicara, jarak ini sangat bergantung pada bagaimana sikap dan persepsi kita terhadap orang tersebut. Persepsi ruang inilah yang disebut oleh J.D. Fisher sebagai personal space. Personal space didefinisikan sebagai suatu batas maya yang mengelilingi kita yang dirasakan sebagai wilayah pribadi kita dan tidak boleh dilalui oleh orang lain.

Ruang pribadi sering diukur melalui jarak fisik seseorang, Edward Hall (1959) seorang pakar antropologi, mengajukan 4 daerah pokok untuk seseorang melakukan interaksi interpersonal:
  1. Jarak intim (0-18 inci).m Jarak seperti ini digambarkan oleh Edward bercumbu, berciuman, senggama, oral seks, dan ibu yang menyusui anak nya.
  2. Jarak pribadi (18 inci- 4 kaki). Jarak seperti ini digambarkan ileh edward seperti bercakap-cakap.
  3. Jarak sosial ( 4-7 kaki). Jarak seperti ini digambarkan oleh Edward seperti orang yang melakukan bisnis (metting).
  4. Jarak public (12-25 kaki). Jarak seperti ini digambarkan oleh Edward seperti orang lain berteriak memanggil orang lain.
b. Teritorial
Teritorial adalah tempat yang dimiliki atau dikuasai oleh seorang individu. Perilaku teritorial akan memberikan informasi dimana daerah teritorial seseorang. Almant membagi daerah teritorial menjadi 3, yaitu sbb:

  1. Teritorial Primer. Daerah ini dimiliki secara keseluruhan, misalnya: rumah, apartemen, ruang kerja pribadi. Ini dikelola secara relative permanen dan merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Teritorial Sekunder. Daerah ini digunakan secara teratur, tetapi digunakan bersama orang lain. Misalnya : rumah keluarga, laboratorium dll.
  3. Teritorial public. Daerah ini digunakan untuk kepentingan umum yang teritorialnya biasanya pemerintah, misalnya taman bermain, perpustakaan.
c. Perbedaan Perilaku Spasial Manusia
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku spasial yang berbeda-beda antar individu, antara lain :

  1. Jenis Kelamin. Umumnya laki-laki memiliki ruang yang lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang berdiri sendiri. 
  2. Umur. Makin bertambah usia seseorang, makin besar ruang personalnya, ini ada kaitannya dengan kemandirian. Pada saat bayi, hampir tidak ada kemampuan untuk menetapkan jarak karena tingkat ketergantungan yang makin tinggi. Pada usia 18 bulan, bayi sudah mulai bisa memutuskan ruang personalnya tergantung pada orang dan situasi. Ketika berumur 12 tahun, seorang anak sudah menerapkan RP seperti yang dilakukan orang dewasa.
  3. Kepribadian. Orang-orang yang berkepribadian terbuka, ramah atau cepat akrab biasanya memiliki RP yang lebih kecil. Demikian halnya dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih kecil. Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain, demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru. 
  4. Kekuasaan dan Status. Makin besar perbedaan status makin besar pula jarak antar personalnya. 
  5. Pengaruh Lingkungan Fisik. Ruang personal juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik. Di ruang dengan cahaya redup orang akan nyaman jika posisinya lebih berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau kecil. Orang juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah ruangan. Dan beberapa variasi lain seperti budaya, religi dan suku/etnis.

2. Rasa Sesak Dan Sepi

Rasa yang dirasakan seseorang terlalu sempit dan tidak memiliki ruang, keadaan ini sangat relatif, tergantung perasaan seseorang. Keadaan sesak ini lebih kepada negative, jika kita merasakan sesak maka kita akan kurang senang dan mengeluh.

Rasa sesak sangat dipengaruhi oleh perasaan, tidak peduli dengan besar ruangan. Contohnya: jika kita berenang di pantai yang sepi, ada beberapa orang yang hadir maka kita akan merasa sesak, ini sangat berhubungan dengan perasaan dan mood kita saat itu.
Sedangkan rasa sepi dimana seseorang merasa sendiri dan tidak bisa merasakan kehangatan orang-orang disekitarnya, perasaan juga sangat mempengaruhi keadaan orang yang sedang sepi atau tidaknya. Misalnya di taman walaupun orang ramai tetapi kita merasa sendiri di dalam keramaian tersebut.


3. Stres Lingkungan

Stres lingkungan adalah stres yang disebabkan oleh gangguan lingkungan, disebabkan oleh alam. Contoh stres lingkungan adalah kejadian seperti gempa bumi, banjir maupun longsor. yang akan mengubah hal tersebut sangatlah banyak, tetapi kita perlu cermati bahwa banyak kejadian sehari-hari yang membuat kita stres, seperti kebisingan, panas, polusi udara dll.

Penelitian stres lingkungan kita pusatkan pada kebisingan, pada dunia yang modern pada saat ini, kebisingan disebabkan oleh bunyi mesin, suara musik yang keras. Disini kita akan membagi kebisingan menurut lama waktu / durasi:

  1. Kebisingan jangka pendek. Kadang-kadang kita mendengar suara ledakan tabung gas 3 kg, ataupun kerusakan audio di tempat umum (mesjid, bel sekolah, dll), atau ledakan dinamit. Suara keras seperti itu bisa membuat kita terkejut, dan respon kita seperti meloncat, meneganggkan otot-otot perut kita, berkedip, dll. Jelas sekali gangguan seperti itu sangat mengganggu kita untuk bekerja seperti biasanya.Biasanya adaptasi seseorang setelah mendengar ledakan tersebut akan cepat kembali membaik, asalkan tidak menimbulkan kerusakan fisik. Sekitar 10 menit pendengaran akan kembali seperti biasanya.Penting bagi kita untuk memprediksi kebisingan, karena sebelum kita mendengarkan suarayang keras kita akan lebih dulu merespon untuk menghindari suara kebisingan tersebut.
  2. Kebisingan jangka panjang. Beberapa penelitian di New York mengatakan kebisingan sangat dipengaruhi oleh rancangan atau arsitektur bangunannya, lantai yang lebih rendah akan selalu lebih bising dari pada lantai yang jaraknya tinggi, dan situasi ini sangat memungkinkan untuk dilakukan eksperimen.bCohen, Glass dan Singer mengadakan eksperimen kepada anak-anak yang tinggal di apartemen lebih dari 4 tahun, hasilnya tampak sangat jelas bahwa anak-anak yang berada si apartemen yang lebih bising mempengaruhi menurunnya kemampuan intelektualnya.
  3. Bagaimana Kebisingan Mempengaruhi Interaksi Sosial. Salah satu kesimpulan yang bisa diambil adalah kebisingan sangat mempengaruhi kemampuan seseorang memperhatikan isarat-isarat sosial. Dan salah satu yang penelitian yang lain, orang yang berjalan kaki di tempat yang ramai lebih sedikit untuk mengingat semua yang ada di sekitarnya.
  4. Psikologi Arsitektural. Rancangan arsitektural adalah suatu lingkungan buatan yang di desain untuk kenyamanan manusia. Salah satu pertanyaan paling menarik adalah bagaimana perancangan bangunan sekolah, atau pusat perbelanjaan mempengaruhi perilaku kita?. Memang, struktur yang kita hasilkan atau yang biasa disebut lingkungan binaan merupakan bagian dari dunia kita yang sangat penting.
Beberapa rumah tampak menyenangkan untuk ditempati dan yang lain tidak, beberapa toko mampu memberikan kenyamanan dengan tata ruang dan tata letak yang baik bagi pengunjungnya. Hal ini karena lingkungan binaan sangat mempengaruhi perilaku kita. Menurut fisher dkk (1984) sampai saat ini, pengaruh desain arsitektur terhadap perilaku seringkali masih dipandang kecil. Meskipun direncanakan secara umum, rancangan kota dan bangunan-bangunannya jarang sekali mempertimbangkan bagaimana kota dan bangunan tersebut mempengaruhi perilaku manusia.

Ada 4 pandangan tentang seberapa besar arsitektur mempengaruhi perilaku manusia :
  1. Pendekatan kehendak bebas (free-will approach), pendekatan ini beranggapan bahwa lingkungan tidak memberikan dampak apapun terhadap perilaku. 
  2. Determenisme arsitektural, lingkungan yang dibangun mempengaruhi perilaku manusia yang ada didalamnya
  3. Kemungkinan lingkungan (environment posibibilism ), lingkungan tidak sepenuhnya mempengaruhi perilaku individu
  4. Probabilisme lingkungan, individu dapat memilih variasi respon terhadap berbagai situasi lingkungan.
  5. Kehidupan Kota Besar. Amerika dan Kanada lebih dari 70% penduduknya tinggal di kota besar. Selain masalah finansial, ada masalah kriminalitas, Sekolah yang tidak berfungsi, jadi pandangan orang akan negativ jika mendengar kota.
Lingkungan fisik dan sosial sangat mempengaruhi apa yang terjadi di kota-kota besar. Dilihat dari lingkungan fisiknya lingkungan kota lebih bising, kotor, dan lebih tercemar dibandingkan desa. Sedangkan kontek hubungan sosial dari pada desa adalah dikota lebih sesak manusia dari pada di desa, dan juga penduduk kota beragam etnis, budaya dan ras nya. Ini memungkinkan terjadi penurunan pernikahan. 

Jika kita pandang dari kesehatan fisik dan mental, kehidupan kota besar dan kecil maupun desa relatif sama tidak jauh berbeda, hanya saja fisik orang di desa akan jauh lebih baik dari pada orang yang tinggal di kota, karena kurang nya populasi udara dan akan tercemar nya lingkungan mereka.

Relasi sosial di kota lebih sedikit dari orang desa, karena orang kota yang dibebani kontrak yang dangkal. Itulah faktor kurang bnyak nya teman yang akrab. Sedangkan di desa orang akan memilih rumah dan pekerjaan tetap yang akan menimbulkan keakraban yang signifikannya tinggi.

Keragaman gaya hidup dikota walaupun kota enggan untuk menolong orang asing tetapi orang kota lebih menerima keragaman gaya hidup. Sedangkan orang desa yang hidupnya selalu bersama-sama dan suka menolong satu sama lain tetapi tidak akan murah untuk menerima gaya hidup yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA
  • David, o searcs jonathan, psikologi sosial (2003) new york
  • Fischer J.D (1984) new york: holt rihernathttp://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab5-ruang_personal_dan_teritorialias.pdf http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf
  • http://sandri09a.blogspot.com/2012/11/hubungan-perilaku-manusia-dengan_7257.html

Kantor-kantor


Lihat JAMBI PROVINCE GOVERMENT di peta yang lebih besar
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jaringan Jalan

Jaringan Jalan

TERAKHIR DI UPDATE GOOGLE

Kebun Mangrove

Kebun Mangrove

Struktur Sungai

Struktur Sungai

POLA RUANG SUMATERA

POLA RUANG SUMATERA